Eric Schmidt, Mantan CEO dan Ketua Google, Ketua dan CEO Relativity Space berbicara di atas panggung selama hari ke-2 Forum Bisnis Amerika di Kaseya Center pada 6 November 2025 di Miami, Florida. Foto: Alexander Tamargo/Getty Images /AFPzoom-in-white
Rivalitas dengan Elon Musk?
Baca Juga:
Pentagon Bongkar Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp433,8 Triliun
Bagian paling menarik dari berita ini adalah persaingan personal di baliknya. Kontrak baru ini bisa memberi Schmidt kesempatan untuk "mengungguli" Elon Musk, yang selama ini kerap menjadi lawan debatnya soal isu keamanan AI.
Ironisnya, meski Musk lama dikenal dengan ambisi besarnya menuju Mars lewat SpaceX, kenyataannya berbeda. SpaceX sendiri sebenarnya belum pernah mengirim misi mereka sendiri ke Mars.
Tesla Roadster yang diluncurkan ke arah Mars pada 2018 hanyalah aksi publisitas, bukan misi sains, dan bahkan meleset dari targetnya.
Baca Juga:
Asteroid Raksasa Dekati Bumi 2029, Bisa Dilihat Tanpa Teleskop
Jika Aeolus milik Relativity meluncur sesuai jadwal, misi ini bisa menjadi misi swasta pertama yang benar-benar mencapai Planet Merah.
Bagi penggemar perkembangan dunia antariksa, kabar ini menarik bukan cuma soal siapa yang "menang" — tapi soal bagaimana lanskap eksplorasi Mars mulai bergeser dari dominasi nama-nama besar seperti SpaceX dan Blue Origin, ke pemain yang sebelumnya dianggap underdog. Relativity Space, yang baru tahun lalu masih bergumul mencari pendanaan, kini justru berpotensi mencatat sejarah lebih dulu dari raksasa-raksasa industri roket yang sudah lebih lama berkecimpung di sektor ini.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.