Lebih mengejutkan lagi, AI tersebut menemukan kesalahan logika tersembunyi yang selama hampir 40 tahun tidak pernah disadari oleh pembuatnya.
Salah satu temuan penting berupa bug dengan karakter “silent incorrect behavior” yang membuat program tidak menampilkan pesan error saat terjadi kegagalan.
Baca Juga:
Kementerian Transmigrasi Siapkan SDM Unggul Memimpin Lewat Beasiswa Patriot
Sebaliknya, ketika baris tujuan tidak ditemukan, sistem justru melompat ke baris berikutnya atau langsung menuju akhir program.
AI tersebut juga memberikan rekomendasi perbaikan yang sesuai dengan pola pemrograman 6502 untuk menutup celah tersebut.
Claude menyarankan penambahan pemeriksaan carry flag yang akan aktif ketika baris tidak ditemukan, lalu mengarahkan eksekusi ke mekanisme penanganan error.
Baca Juga:
Mahasiswa Baru ITB Wajib Ikut Mata Kuliah AI: Mulai 2026
Bagi Russinovich, keberhasilan AI membedah program era 1980-an ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan sinyal peringatan serius.
“Kita sedang memasuki era penemuan kerentanan yang diakselerasi oleh AI dan berjalan secara otomatis, kemampuan ini akan dimanfaatkan oleh pihak yang bertahan maupun para penyerang,” ujarnya.
Kemampuan reverse engineering terhadap kode biner primitif dinilai membuka potensi risiko besar, terutama pada sektor infrastruktur vital.