Saat ini, miliaran embedded devices dan mikrokontroler di seluruh dunia masih menggunakan firmware lama yang rentan dan jarang diaudit.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi peretas untuk memanfaatkan agen AI dalam memindai dan mengeksploitasi celah pada sistem lawas.
Baca Juga:
Kementerian Transmigrasi Siapkan SDM Unggul Memimpin Lewat Beasiswa Patriot
Di sisi lain, banyak infrastruktur tua yang sudah tidak memungkinkan untuk diperbarui atau ditambal.
Potensi ancaman ini sebenarnya telah diantisipasi oleh Anthropic saat merilis Claude Opus 4.6 pada awal bulan lalu.
Tim keamanan internal perusahaan tersebut telah memperingatkan bahwa model ini memiliki kemampuan tinggi dalam menemukan bug.
Baca Juga:
Mahasiswa Baru ITB Wajib Ikut Mata Kuliah AI: Mulai 2026
Sebagai gambaran, saat digunakan untuk menguji pemrograman browser Mozilla Firefox, AI tersebut mampu menemukan 14 kerentanan tingkat tinggi (CVE) hanya dalam waktu dua pekan.
Temuan ini menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini mampu mengungkap celah keamanan yang selama puluhan tahun luput dari perhatian manusia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.