Kepala WMO Celeste Saulo menyebut aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang merusak keseimbangan sistem iklim global.
Akibatnya, lebih dari 91 persen kelebihan panas tersebut kini terserap ke dalam lautan yang menyebabkan suhu air laut mencapai rekor tertinggi pada 2025.
Baca Juga:
Godzilla El Nino Intai Indonesia, BRIN Peringatkan Kemarau Ekstrem 2026
Dampaknya semakin meluas dengan meningkatnya intensitas badai tropis, mencairnya es di kutub, serta kenaikan permukaan air laut global hingga 11 sentimeter dibandingkan tahun 1993.
Fenomena alam La Nina yang biasanya menurunkan suhu global pun tidak mampu menahan laju pemanasan, dengan 2025 tetap menjadi salah satu tahun terpanas dengan kenaikan suhu 1,43 derajat Celsius dibanding era pra-industri.
“Ke depan, suhu kemungkinan akan melonjak lebih tinggi lagi pada 2027 jika fenomena El Nino kembali terjadi pada akhir 2026,” ungkap pakar WMO John Kennedy.
Baca Juga:
Karbon Biru RI Bernilai Fantastis, Potensinya Bisa Tembus Rp33 Triliun per Tahun
Di akhir laporannya, Guterres mengaitkan krisis iklim dengan ketergantungan manusia terhadap bahan bakar fosil serta kondisi geopolitik global yang memicu lonjakan energi.
“Kekacauan iklim terus melaju cepat, dan menunda tindakan berarti mengundang maut,” pungkasnya.
Peringatan ini menjadi alarm keras bahwa upaya pengurangan emisi dan transisi energi bersih tidak lagi bisa ditunda demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.