WAHANANEWS.CO, Jakarta - Api yang melalap Tempat Pemrosesan Akhir Jatiwaringin di Tangerang, Banten, kembali membuka kenyataan pahit bahwa sebagian besar sampah di Indonesia masih berakhir di gunungan terbuka yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bom ekologis.
Kebakaran tersebut menjadi sorotan publik sekaligus memunculkan perbandingan antara sistem pengelolaan sampah Indonesia dan sejumlah negara maju yang telah mampu mengubah limbah menjadi sumber energi.
Baca Juga:
Wali Kota Jakbar Perkenalkan Buku Pintar Tentang Pilah Sampah
Salah satu negara yang kerap dijadikan contoh adalah Swedia karena negara tersebut justru mengimpor sampah untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar fasilitas pengolahan energi.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan Indonesia yang setiap hari menghasilkan sampah dalam jumlah besar, tetapi masih menghadapi keterbatasan sistem pemilahan, pengangkutan, pengolahan, dan pemanfaatannya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional Wahyu Purwanta menjelaskan bahwa keberhasilan Swedia tidak dapat dibandingkan secara sederhana dengan Indonesia karena keduanya memiliki kondisi geografis dan sistem pengelolaan yang berbeda.
Baca Juga:
Limbah Bantar Gebang Menggunung hingga 55 Juta Ton, Pemerintah Siapkan Cara Baru Kelola Sampah
Perbedaan tersebut disampaikan Wahyu dalam Media Lounge Discussion bertajuk “TPA Terbakar Lagi: Apa Kata Sains dan Bagaimana Mencegahnya?” di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta Pusat, Kamis (09/07/2026) lalu.
“Ya itu harus dipahami begini, Eropa ini daratan walau banyak negara, tetapi sebenarnya daratan,” kata Wahyu.
Ia menjelaskan bahwa kedekatan wilayah antarnegeri di Eropa memungkinkan perpindahan barang, manusia, hingga sampah dilakukan dengan lebih mudah melalui jaringan transportasi darat.