Efisiensi tersebut sangat bergantung pada proses pemilahan sejak dari sumber agar sampah organik basah tidak tercampur dengan plastik, kertas, karton, dan material kering lainnya.
“Kalau di sini nanti yang terbakar, sisa makanan juga akan masuk ke situ, akibatnya jadi efisiensi rendah,” ujar Wahyu.
Baca Juga:
Wali Kota Jakbar Perkenalkan Buku Pintar Tentang Pilah Sampah
Di Swedia, sampah telah dipilah melalui sistem yang tertata sehingga material yang masuk ke fasilitas pembakaran didominasi oleh sampah kering dengan nilai kalor tinggi.
Kondisi tersebut membuat proses pembakaran menjadi lebih stabil dan energi yang dihasilkan dari setiap ton sampah dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi.
“Maksud saya efisiensi rendah itu begini, kalau di negara maju yang sudah menerapkan pemilahan, itu mungkin mencapai 500 sampai 600 kilowatt listrik per ton,” kata Wahyu.
Baca Juga:
Limbah Bantar Gebang Menggunung hingga 55 Juta Ton, Pemerintah Siapkan Cara Baru Kelola Sampah
Indonesia masih menghadapi persoalan karena sampah rumah tangga umumnya dibuang dalam keadaan tercampur antara sisa makanan yang mengandung banyak air dengan plastik, kertas, dan bahan mudah terbakar lainnya.
Kandungan air yang tinggi membuat energi dalam proses pembakaran lebih banyak digunakan untuk mengeringkan sampah sehingga listrik yang dihasilkan menjadi lebih rendah.
“Di kita nanti mungkin hanya 300 sampai 400 kilowatt per ton karena sampahnya tidak kering sekali,” ujar Wahyu.