WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Suriah yang telah digulingkan, Bashar al-Assad, dinobatkan sebagai pemimpin paling berperan dalam memajukan kejahatan dan korupsi global yang merusak demokrasi dan hak asasi manusia. Gelar pemimpin terkorup diberikan oleh Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) kepada Bashar dalam sebuah rilis terbaru mereka.
Namun, Bashar bukan satu-satunya yang masuk dalam daftar tersebut. Empat pemimpin dunia lainnya juga masuk dalam nominasi tokoh terkorup, salah satunya Presiden Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi. OCCRP memberi penjelasan tentang proses pemilihan tokoh-tokoh ini. Menurut keterangan resmi mereka, nominasi berasal dari usulan masyarakat dunia yang kemudian disaring oleh tim juri yang terdiri dari civil society, akademisi, dan jurnalis berpengalaman dalam investigasi korupsi dan kejahatan.
Baca Juga:
PTUN Batalkan Putusan, Pemerintah Perkuat Upaya Eksekusi Lahan Hotel Sultan
OCCRP mengklaim bahwa mereka bersifat independen dalam menentukan nominasi ini, dengan lebih dari 55 ribu usulan yang diterima. "Kami memasukkan para finalis yang mendapat dukungan online terbanyak dan memiliki dasar yang cukup kuat untuk dipertimbangkan,” ujar OCCRP dalam pernyataannya.
Terkait masuknya Jokowi dalam daftar finalis tokoh terkorup, OCCRP mengakui bahwa tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Jokowi terlibat dalam korupsi pribadi selama masa kepresidenannya. Namun, banyak dorongan dari publik di dunia maya yang membuat Jokowi masuk dalam nominasi. Kritik terhadap Jokowi, terutama soal dugaan pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan tuduhan merusak sistem pemilu dan peradilan Indonesia demi mendukung ambisi politik putranya, menjadi faktor utama masuknya Jokowi dalam daftar tersebut.
"OCCRP tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Jokowi terlibat dalam korupsi untuk keuntungan pribadi selama masa kepresidenannya. Namun, banyak kelompok masyarakat sipil dan para ahli berpendapat bahwa pemerintahan Jokowi telah melemahkan KPK,” ungkap OCCRP.
Baca Juga:
KPK Ungkap Keluarga Bupati Pekalongan Terima Rp19 Miliar dari Korupsi
Drew Sullivan, Publisher OCCRP, menjelaskan bahwa meskipun beberapa nominasi tidak memiliki bukti kuat mengenai korupsi besar atau pola penyalahgunaan, terdapat persepsi yang sangat kuat di masyarakat bahwa korupsi terjadi. Hal ini menjadi peringatan bagi para nominasi bahwa publik sedang mengawasi tindakan mereka.
Terkait dengan kemungkinan pemeringkatan ini menjadi alat politik, Sullivan mengakui hal tersebut, namun ia memastikan bahwa tujuan OCCRP adalah untuk mengakui kejahatan dan korupsi, bukan untuk memajukan agenda politik tertentu. "Pemeringkatan ini kadang disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu, tapi tujuan kami jelas: memberikan pengakuan terhadap kejahatan dan korupsi,” ujar Sullivan.
Jokowi menanggapi nominasi tersebut dengan nada tegas. Pada Selasa (31/12/2024), di Solo, Jawa Tengah, Jokowi menyatakan, "Terkorup? Terkorup apa? Yang dikorupsi apa?" Menurutnya, banyak fitnah yang diarahkan kepadanya, dan ia menantang pihak yang menyebutnya sebagai pemimpin terkorup untuk membuktikan tuduhan itu. "Ya dibuktikan, apa," ucap Jokowi.