WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nasionalisme disebut harus tetap menjadi fondasi utama dalam praktik bernegara di tengah tekanan global dan dinamika politik dalam negeri yang kian kompleks.
Cucu Soekarno, Didi Mahardhika Soekarno, menegaskan bahwa wacana nasionalisme kini kembali menemukan relevansinya di tengah berbagai tantangan bangsa, Selasa (08/04/2026).
Baca Juga:
KPK Panggil Tujuh Pejabat Biro Haji, Dalami Kasus Dugaan Korupsi Kuota 2023–2024
"Tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya soal ekonomi atau geopolitik, melainkan juga arah demokrasi yang mulai dipraktikkan secara keliru oleh sebagian pihak," kata Didi.
Ia menyoroti adanya kecenderungan demokrasi tidak lagi difungsikan sebagai mekanisme koreksi yang sehat, melainkan digunakan sebagai alat untuk mendelegitimasi pemerintahan.
"Demokrasi seharusnya mengoreksi, bukan meruntuhkan legitimasi negara," menjadi garis pemikiran yang didorongnya dalam membaca kondisi saat ini.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Terapkan Kebijakan WFH bagi ASN, Pelayanan Publik Tetap Berjalan Optimal
Didi menjelaskan bahwa kritik terhadap pemerintah sejatinya merupakan bagian penting dari sistem demokrasi, namun harus tetap diarahkan untuk memperbaiki, bukan merusak kepercayaan publik.
"Kritik terhadap pemerintah adalah bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun ketika kritik tersebut tidak lagi bertujuan memperbaiki, melainkan melemahkan kepercayaan publik secara sistematis, maka yang terjadi adalah distorsi demokrasi," ujarnya.
Ia menilai praktik delegitimasi tersebut berpotensi membahayakan persatuan nasional, terutama dalam situasi global yang penuh ketidakpastian dan tekanan geopolitik.