Menurutnya, polarisasi yang muncul akibat praktik tersebut dapat menggerus kohesi sosial sekaligus melemahkan posisi Indonesia di tingkat internasional.
Sebagai putra Rachmawati Soekarnoputri, Didi menegaskan bahwa demokrasi Indonesia harus tetap berakar pada nilai gotong royong, musyawarah, serta kepentingan nasional.
Baca Juga:
KPK Panggil Tujuh Pejabat Biro Haji, Dalami Kasus Dugaan Korupsi Kuota 2023–2024
Ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh bergeser menjadi alat yang justru menciptakan instabilitas di dalam negeri.
Dalam pandangannya, Indonesia saat ini membutuhkan stabilitas politik yang diperkuat oleh kritik konstruktif, bukan serangan yang meruntuhkan legitimasi negara.
"Nasionalisme tidak hanya soal melawan pengaruh luar, tetapi juga menjaga kohesi di dalam negeri," tegasnya.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Terapkan Kebijakan WFH bagi ASN, Pelayanan Publik Tetap Berjalan Optimal
Sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, ia menyatakan komitmennya untuk terus mendorong narasi kebangsaan yang menyejukkan sekaligus tegas dalam menghadapi dinamika politik.
Didi juga mengingatkan bahwa perjuangan menjaga Indonesia tidak berhenti pada momentum kemerdekaan, melainkan harus terus berlanjut dalam menjaga arah demokrasi agar tetap memperkuat bangsa.
"Nasionalisme dan demokrasi sejatinya harus berjalan seiring serta saling menguatkan demi keutuhan dan masa depan Indonesia," ujarnya.