"Kita belum bisa pastikan, korban pengeroyokan atau bukan, yang pasti kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang termasuk rekan atau lichting-nya dan seniornya DP. Mungkin bertambah lagi nanti (diperiksa)," ujar Kabid Propam Polda Sulsel, Zulham Effendi, di Makassar, Minggu (22/2/2026).
Peristiwa itu terungkap setelah adanya laporan dari Direktorat Samapta Polda Sulsel terkait keluhan korban usai salat subuh setelah sahur, dengan informasi awal menyebutkan korban jatuh sakit di asrama sebelum dilarikan ke RSUD Daya untuk mendapatkan perawatan medis.
Baca Juga:
Dugaan Korupsi Rp60,8 Miliar, Tiga ASN Riau Dipanggil KPK
Namun nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia, sementara pihak keluarga yang awalnya mendapat kabar korban sakit menemukan kejanggalan berupa memar pada tubuh dan darah di mulut saat mendatangi rumah sakit.
Merasa ada kejanggalan, keluarga kemudian membawa jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan visum guna memastikan ada atau tidaknya unsur kekerasan yang dialami korban selama berada di asrama polisi.
"Makanya untuk membuktikan itu (tindak kekerasan), kita bawa ke RS Bhayangkara, karena awalnya dibawa ke RS Daya. Saya sudah sampaikan ke Kabid Dokkes Polda Sulsel termasuk kepada dokter yang memeriksa silakan diperiksa dengan benar, jangan ada yang ditutup-tutupi, kalau memang ada kekerasan," paparnya.
Baca Juga:
MK Minta Revisi Aturan, Wacana Ambang Batas 7 Persen Menguat
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.