WAHANANEWS.CO, Jakarta - Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah dinilai bukan sekadar perang regional, melainkan ancaman nyata bagi energi dan ekonomi Indonesia yang bisa berdampak hingga ke harga BBM dan daya beli masyarakat.
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan ketahanan energi dan fondasi ekonomi nasional menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Baca Juga:
Ali Khamenei Tewas Digempur Serangan Udara AS-Israel, Iran Berkabung 40 Hari
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (3/3/2026), Ibas menilai konflik di kawasan tersebut berpotensi memperluas instabilitas geopolitik global serta memberi tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
"Dunia hari ini berada dalam situasi ketidakpastian yang serius. Ketika konflik bersenjata terjadi di pusat energi dunia, dampaknya menjalar ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita harus waspada, responsif, dan strategis," ucapnya.
Menurut dia, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi global, jalur perdagangan internasional, inflasi dunia, serta keamanan kawasan.
Baca Juga:
Ali Khamenei Tewas di Bawah Reruntuhan, 900 Serangan Guncang Iran
Ia secara khusus menyoroti Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia yang berbatasan langsung dengan Iran sehingga berisiko terdampak apabila eskalasi konflik meningkat.
Selat Hormuz, lanjut dia, merupakan jalur distribusi bagi sekitar 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap hari sekaligus rute utama pengiriman gas alam cair dari Qatar sehingga gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu kejutan pasokan global.
"Bagi Indonesia, ini bukan sekadar angka di pasar bursa, melainkan ancaman nyata terhadap biaya operasional industri dan ketersediaan BBM di tingkat ritel. Kita harus sadar bahwa gangguan di selat tersebut dapat melambungkan harga minyak mentah jauh di atas asumsi makro APBN kita," ucap Ibas.
Selain minyak mentah, ia menyebut gangguan distribusi di jalur tersebut juga dapat berdampak sistemis terhadap rantai pasok global akibat lonjakan biaya asuransi pengiriman serta pengalihan rute kapal tanker yang meningkatkan ongkos logistik internasional.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut dinilai dapat memicu kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri di dalam negeri yang berujung pada tekanan terhadap sektor manufaktur nasional.
Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia disebut sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.
Ibas memprediksi kenaikan harga energi global dapat memicu tekanan pada APBN, inflasi pada sektor kebutuhan pokok, penurunan daya beli masyarakat, hingga hambatan aktivitas ekspor dan impor.
"Kita harus mengantisipasi dampak rambatan ekonomi global ini dengan langkah yang terukur dan kebijakan yang tepat sasaran demi menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.
Menyikapi dinamika tersebut, ia menekankan Indonesia tidak boleh hanya bersikap reaktif, melainkan harus mengambil langkah strategis melalui penguatan ketahanan energi, menjaga stabilitas ekonomi dan perlindungan rakyat, serta menjalankan diplomasi yang aktif dan konsisten.
Ia juga mengingatkan bahwa konstitusi mengamanatkan Indonesia untuk turut melaksanakan ketertiban dunia sehingga nilai-nilai Pancasila seperti kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan harus menjadi pedoman moral dalam diplomasi.
"Indonesia tidak boleh terjebak dalam polarisasi global. Kita adalah bangsa besar yang konsisten menolak perang dan kekerasan. Kita harus menjadi bangsa yang kokoh dalam nilai, kuat dalam ekonomi, dan bijak dalam diplomasi," ujarnya.
Ibas mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, parlemen, pelaku usaha hingga masyarakat, untuk memperkuat persatuan nasional dan semangat gotong royong karena stabilitas dalam negeri diyakini menjadi kunci menghadapi guncangan eksternal.
"Di tengah gejolak geopolitik global, Indonesia harus berdiri teguh sebagai jangkar stabilitas dan suara moral bagi perdamaian dunia," ucap Ibas.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]