Dalam struktur OPM, ia menjabat sebagai Komandan Batalyon Kodap VIII Soanggama, salah satu kelompok separatis paling aktif dan kejam di Papua Tengah.
Mayjen Lucky Avianto mengungkap serangkaian aksi sadis yang dilakukan Enos selama memimpin kelompoknya.
Baca Juga:
Buka Musyawarah Pastoral (Muspas) Mee VIII, Gubernur Papua Tengah Dorong Sinergi Gereja dan Pemerintah
Ia bukan hanya menyerang pos keamanan, tapi juga menyasar warga sipil, termasuk petani, pekerja bangunan, dan tokoh agama. Ironisnya, banyak dari korbannya merupakan Orang Asli Papua (OAP) sendiri.
Dalam sejumlah aksinya, Enos juga kerap membakar rumah-rumah warga, honai adat, sekolah, hingga puskesmas.
“Kelompok ini menggunakan strategi bumi hangus yang menciptakan trauma mendalam, khususnya bagi perempuan dan anak-anak,” jelas Lucky.
Baca Juga:
Stikes Persada Nabire Sampaikan Terima Kasih atas Bantuan Pemprov Papua Tengah
Yang lebih biadab, kelompoknya juga menjadikan remaja dan pemuda sebagai tameng hidup dalam sejumlah serangan terhadap pos TNI/Polri, khususnya di wilayah Distrik Baitapa dan Desa Mamba, Distrik Sugapa.
Tak hanya itu, mereka kerap menyandera warga sipil dan tenaga kerja proyek infrastruktur. Korban yang disiksa dan dibunuh dijadikan alat propaganda untuk menebar ketakutan.
Rekam Jejak Kejahatan Enos Tipagau: