Ray juga mengingatkan bahwa pencalonan Sjafrie bisa menjadi peluang sekaligus memunculkan dinamika sensitif bagi Presiden Prabowo Subianto dalam menentukan arah politiknya ke depan.
Pasalnya, jika Sjafrie dipasangkan dengan Prabowo, Ray memandang ada potensi kendala karena keduanya berlatar belakang purnawirawan TNI dan tidak membawa representasi partai koalisi secara langsung.
Baca Juga:
Sjafrie Sambangi Widodo AS, Perkuat Silaturahmi dan Nilai Kepemimpinan TNI
"Tapi jika tidak bersama Prabowo, tentu saja Prabowo akan mempersempit peluangnya untuk melaju. Ini bisa jadi berkah tapi sekaligus jadi pemecah Prabowo-Sjafrie," ucap Ray.
Sebelumnya, hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029 termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, sejumlah gubernur, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Peneliti IPI Abdan Sakura menjelaskan bahwa kemunculan nama-nama baru tersebut dipengaruhi berbagai faktor yang membentuk elektabilitas, seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, eksposur media, integritas, hingga visi-misi dan program kerja.
Baca Juga:
Survei IPI Buka Bursa Capres 2029, Sjafrie dan Dedi Mulyadi Masuk Radar
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (10/2/2026), ia memaparkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie yakni kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.
"Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral," ujar Abdan.
Menurut dia, ruang konversi elektoral itu masih terbuka lebar apabila terjadi perubahan peta koalisi, krisis politik, atau absennya figur utama dalam kontestasi.