Temuan lain menunjukkan bahwa perilaku impulsif ini tersebar merata di kota-kota besar, dengan tingkat respons paling tinggi tercatat di Jakarta, disusul Depok dan Surakarta.
Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kecenderungan bereaksi terhadap konten digital, yang menandakan bahwa faktor psikologis lebih dominan dibanding demografis gender.
Baca Juga:
Asmara Berujung Petaka, Pria di Surabaya Didakwa Tipu Pacar hingga Rp 42 Juta
Secara waktu, penurunan daya kritis paling terasa pada jam-jam sibuk perkantoran, khususnya pukul 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00, ketika konsentrasi cenderung melemah.
"Setiap dua jam saat jam kerja biasanya fokus mulai turun," ujar Nazrya.
Menariknya, kecenderungan ini tidak berkurang saat hari libur atau periode panjang perayaan, yang menunjukkan bahwa batas antara waktu kerja dan istirahat semakin kabur dalam kehidupan digital.
Baca Juga:
Sultan HB X Murka Kasus Daycare Yogyakarta, Perintahkan Tutup Lembaga Ilegal
Untuk mengatasi kondisi tersebut, eksperimen ini menekankan pentingnya jeda singkat sebelum bereaksi terhadap konten, sebagai cara sederhana untuk mengembalikan kendali diri.
Aktivitas ringan seperti memijat telinga atau bermain gim sederhana yang disediakan dalam platform eksperimen dirancang untuk meredam stres sekaligus menenangkan pikiran.
Menurut psikolog Irma Gustiana, jeda singkat tersebut membantu mengalihkan energi impulsif menjadi respons yang lebih sadar secara kognitif.