Biaya Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) yang relatif tinggi dalam proyek kredit karbon berbasis ekosistem juga menjadi hambatan dalam implementasinya.
"Ini juga nanti harus menjadi bagian penting saya kira bagaimana kita melakukan langkah-langkah ini ke depan," ucap Asep.
Baca Juga:
PBB Sebut Jabodetabekjur Terpadat di Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran Desak Pembenahan Infrastruktur Segera
Selain tantangan teknis dan tata kelola, fluktuasi harga karbon di pasar global juga dinilai masih menjadi persoalan bagi pengembangan proyek karbon biru.
Harga karbon yang relatif rendah belum selalu memberikan insentif ekonomi yang kuat bagi pengembangan proyek berbasis ekosistem pesisir.
"Apakah harga karbon yang saat ini, terutama blue carbon (karbon biru) yang saat ini sudah ada atau sudah terjadi transaksi, itu adalah cukup layak dan ekonomis untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir berbasis bisnis karbon? Ini saya kira pertanyaan yang sangat signifikan karena harapan kita karbon ke depan ini menjadi sumber pendapatan negara yang lain, yang sangat potensial," ujar Asep.
Baca Juga:
Fenomena Ekstrem Mengintai, BRIN Sebut Godzilla El Nino Picu Krisis Air
Di pasar karbon sukarela atau Voluntary Carbon Market (VCM), harga karbon saat ini masih sangat bervariasi tergantung proyek dan standar sertifikasi yang digunakan.
"Ya, ini tergantung dari proyek dan standar sertifikasi yang digunakan," tutur Asep.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.