Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wilayah pesisir Indonesia menjadi salah satu pusat cadangan karbon pesisir dunia dengan kontribusi sekitar 17 persen dari total cadangan karbon biru global.
Dari sisi kapasitas penyimpanan karbon, mangrove mampu menyimpan sekitar 800 hingga 1.200 ton CO2 per hektar, sedangkan padang lamun memiliki kapasitas sekitar 100 hingga 600 ton CO2 per hektar.
Baca Juga:
Suhu Bisa 100 Persen di Atas Normal, Asia Tenggara Bersiap Hadapi Panas Ekstrem
Potensi ekologis tersebut dinilai memiliki nilai ekonomi yang sangat besar, terutama jika dikelola melalui mekanisme perdagangan karbon global secara optimal.
Namun demikian, realisasi potensi karbon biru tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan yang masih harus diatasi.
"Ini yang saya kira nanti perlu menjadi kajian-kajian riset, termasuk penambahan nilai karbon itulah yang sesungguhnya akan diperdagangkan, sementara stoknya itu kan menjadi baseline. Ini nanti harus kita kaji lebih dalam terkait dengan tantangan-tantangan metodologis terkait dengan pengukuran karbon di Indonesia," jelas Asep.
Baca Juga:
Hiu Raksasa Terekam di Laut Antarktika, Ilmuwan Patahkan Mitos Lama
Salah satu tantangan utama adalah aspek metodologis atau metode pengukuran karbon yang masih kompleks, termasuk penghitungan stok karbon, dinamika ekosistem, serta perubahan sedimen di wilayah pesisir.
Selain itu, tantangan lain muncul dari konsep ketertambahan atau additionality serta potensi kebocoran karbon atau leakage dalam mekanisme perdagangan karbon.
Persoalan tata kelola juga menjadi perhatian penting, termasuk kepastian hak pengelolaan wilayah pesisir, integrasi kebijakan lintas sektor, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan ekosistem.