Produksi kemasan kaca
Masalah kedua muncul dalam proses produksi. Proses ini memerlukan pemanasan semua bahan hingga mencapai suhu 1.500 derajat Celsius.
Baca Juga:
Sudah Dibersihkan, Lagi-lagi Sampah Penuhi Sungai Citarum
Pemanasan ini bertujuan untuk melelehkan semua komponen menjadi cairan serta membuat kaca yang dihasilkan menjadi lebih tahan.
Untuk mendapatkan suhu setinggi itu, maka industri memerlukan pembakaran bahan bakar fosil sebanyak 1,17 sampai 1,19 ton setiap satu ton kaca yang dihasilkan.
Proses ini merupakan proses yang tidak ramah lingkungan, mengingat tingginya konsumsi bahan bakar fosil serta sisa gas pembakaran yang dilepaskan ke udara.
Baca Juga:
Polemik Sampah di Kota Bengkulu Jadi Perhatian Serius, DPRD Terima Aspirasi Warga
Kaca tidak bisa terurai
Masalah ketiga adalah kaca tidak biodegradasi dan tingkat daur ulang yang rendah. Kaca memang bisa didaur ulang untuk membentuk produk kaca lainnya. Sayangnya, tingkat daur ulang kemasan kaca sangat rendah.
Contohnya di Amerika Serikat, kaca yang didaur ulang hanya 33 persen saja. Sementara sisanya akan menumpuk di tempat pembuangan sampah tanpa bisa terurai.