Aksi perebutan kendali kapal itu, dimaksudkan sebagai aksi protes terhadap kebijakan pemotongan upah sebesar 17 persen oleh pemerintah Hindia Belanda.
Aksi pemberontakan yang dikenal sebagai Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi itu, dilakukan oleh orang-orang pribumi, di antaranya yakni Paradja, Romambi, Gosal, dan Kawilarang.
Baca Juga:
Di Tengah Konflik Hormuz, Kapal Pertamina Justru Tanpa WNI di Dalamnya
Serta, dibantu oleh awak kapal berdarah Belanda yang berpihak ke Indonesia.
Namun, selang lima hari dari peristiwa itu, Belanda kembali mengambil alih kapal De Zeven Provinciën di Selat Sunda. [dhn]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.