Peristiwa tersebut menjadi titik awal lahirnya era modern seismologi karena mendorong para ilmuwan mulai meneliti penyebab, lokasi, waktu, hingga dampak gempa bumi secara sistematis.
Sebelum bencana Lisbon, sebagian besar cendekiawan masih mengandalkan teori Aristoteles dan pemikir klasik lainnya, namun setelah itu pendekatan ilmiah berbasis observasi mulai mendominasi penelitian mengenai gempa.
Baca Juga:
Setelah 996 Senapan, Polisi Kembali Temukan Airsoft Gun dan 117 Peluru di Sekolah
Penelitian modern kemudian dipelopori sejumlah ilmuwan, di antaranya John Michell dari Inggris dan Elie Bertrand dari Swiss yang melakukan pengamatan terhadap waktu, lokasi, serta dampak fisik gempa bumi.
Seiring berkembangnya komunikasi global, data gempa dari berbagai negara mulai dikumpulkan dan dibandingkan untuk memahami karakteristik gempa secara lebih menyeluruh.
Setelah gempa besar di Chile pada 1822, Maria Graham melaporkan adanya perubahan signifikan pada garis pantai yang kemudian diperkuat melalui pengamatan Robert FitzRoy bersama Charles Darwin setelah gempa Chile tahun 1835.
Baca Juga:
Fakta Baru Sebelum Winda Lorenza Tewas, Ada Jam Tag Heuer Rp65 Juta dari Orlando Sianipar
Di Amerika Serikat, Grove Karl Gilbert yang meneliti gempa Owens Valley, California, pada 1872 menyimpulkan bahwa patahan merupakan penyebab utama gempa, bukan sekadar dampak dari ledakan bawah tanah sebagaimana diyakini sebelumnya.
Memasuki akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Jepang menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu seismologi dengan hadirnya Seikei Sekiya sebagai profesor seismologi pertama yang melakukan analisis kuantitatif terhadap rekaman gempa.
Ilmuwan Jepang lainnya, Fusakichi Omori, juga memberikan kontribusi besar melalui penelitiannya mengenai pola penurunan aktivitas gempa susulan setelah gempa besar, yang hingga kini masih dikenal melalui Hukum Omori.