Siste menjelaskan bahwa saat seseorang menang, otak melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa senang dan euforia.
Sensasi tersebut mendorong individu untuk terus mengulang perilaku yang sama demi mendapatkan kepuasan serupa.
Baca Juga:
Judol Beromset Puluhan Juta Perhari Bebas Beroperasi di Jalan Rakyat Medan Perjuangan
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat merusak fungsi korteks prefrontal yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri.
"Ketika prefrontal cortex terganggu, individu kehilangan kendali atas perilaku mereka. Misalnya, meski sudah kalah banyak uang mereka tidak mampu berhenti bermain," ujar Siste.
Selain itu, munculnya kesalahan kognitif turut memperparah kondisi kecanduan.
Baca Juga:
Terbongkar, Bos Judol Oei Hengky Samarkan Bisnis Judi Lewat Perusahaan IT
Banyak pemain percaya bahwa mereka mampu memprediksi hasil permainan meskipun sebenarnya bergantung pada probabilitas.
"Padahal, permainan seperti bakarat itu berdasarkan probabilitas, bukan keahlian. Namun, mereka merasa memiliki kekuatan untuk menang. Ini adalah kesalahan kognitif yang perlu diluruskan melalui terapi," tutur dia.
Faktor lain yang memperkuat kecanduan adalah paparan iklan judi online yang menargetkan pengguna secara spesifik melalui algoritma digital.