"Saya berkali kali bertanya pada BGN, jawabannya janji saja terus. Kami minta ada kepastian," tegasnya.
Marthen menuturkan, enam SPPG yang ia bangun berada di sejumlah titik pelosok Nunukan yang aksesnya tidak mudah.
Baca Juga:
Moratorium Baru BGN, Optimalkan Kantin Sekolah-Dapur Umum MBG
Lokasi dapur tersebut berada di Tau Lumbis, Kecamatan Lumbis Hulu, kemudian Labang dan Panas di Kecamatan Lumbis Pansiangan, serta Samunti, Sukamaju, dan Tukulon di Kecamatan Lumbis Ogong.
Menurut Marthen, seluruh bangunan telah disiapkan sesuai spesifikasi yang diminta BGN.
Ia juga menyebut pengadaan omprengan dan sarana kelengkapan dapur diarahkan melalui pihak BGN dengan alasan harus ditempeli logo BGN dan memenuhi sertifikasi halal.
Baca Juga:
Kejagung Dalami Dugaan Mark Up Motor Listrik BGN Rp1 Triliun
"Pemesanan ompreng dan sarana kelengkapan dapur, semua harus lewat BGN. Kami diminta membayar Rp 20 juta sampai Rp 40 juta, tergantung jumlah pesanan omprengan sesuai kebutuhan murid," kata dia.
Selain dapur dan perlengkapan makan, Marthen mengaku juga diminta menyiapkan dua kamar untuk ahli gizi di setiap titik SPPG.
Permintaan tersebut, kata dia, telah dipenuhi seluruhnya agar dapur dapat segera beroperasi melayani penerima manfaat MBG di wilayah perbatasan.