"TPST Bantar Gebang harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk segera berbenah, demi keselamatan jiwa manusia dan kelestarian lingkungan," kata Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dalam keterangannya yang dikutip Selasa (10/3/2026).
Ia menegaskan tragedi tersebut merupakan peringatan keras bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghentikan praktik pengelolaan sampah dengan metode open dumping yang dinilai berbahaya.
Baca Juga:
Danantara Didesak Hentikan Tender PLTSa, Potensi Bebani Negara Rp300 Triliun
Menurut pihak kepolisian, longsor terjadi secara mendadak ketika aktivitas berlangsung di sekitar gunungan sampah.
"Saksi mendengar teriakan warga mengenai adanya longsor, kemudian melihat gunungan sampah tiba-tiba runtuh menutup jalan serta menimpa warung dan beberapa truk sampah," kata Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Kusumo dikutip Selasa (10/3/2026).
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut hujan ekstrem menjadi pemicu utama longsor gunungan sampah tersebut.
Baca Juga:
Prabowo Minta Gunung Sampah Bantar Gerbang Cs Dibereskan
"Peristiwa longsor tersebut di zona 4A pada pukul 14.30 diduga dipicu oleh hujan ekstrem pada hari Minggu yang menyebabkan jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang 40 meter tertutup sampah," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan air meresap ke dalam timbunan sampah sehingga membuat permukaannya licin dan memicu longsoran besar.
"Kemarin karena curah hujannya itu tinggi sekali. Kemarin itu 264 milimeter per hari. Itu termasuk salah satu curah hujan yang tinggi di Jakarta. Karena hujan yang lama masuk ke dalam sampah, menyebabkan sliding atau licin kemudian longsor ke bawah," tambahnya.