WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan masih adanya kesenjangan besar biaya listrik antarwilayah di Indonesia, terutama antara kawasan barat dan timur.
Di sejumlah wilayah Indonesia Timur yang masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar diesel, biaya listrik bahkan bisa menembus US$ 70 sen per kWh.
Baca Juga:
Hemat Energi Listrik hingga 40 Persen, ALPERKLINAS Apresiasi SUN Energy Bantu Industri Pasang PLTS Tanpa Modal Awal
“Jadi, saat ini kita menikmati listrik di ruangan ini harganya cuma US$ 3 sampai US$ 4 sen, nah di sana (Indonesia Timur) sangat tinggi sekali,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, di Jakarta.
Perbedaan biaya tersebut, kata Eniya, mendorong pemerintah bersama PLN untuk mempercepat transisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menuju pembangkit berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT), seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Langkah ini diyakini dapat menurunkan biaya listrik di kawasan timur Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional berbasis sumber daya yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Daerah Mulai Atasi Sampah, MARTABAT Prabowo–Gibran Apresiasi Pemprov NTT Siapkan Energi Terbarukan dari Limbah
“Nah, pada saat kita bicara renewable energy, membangun photovoltaic dan baterai di sana akan jauh lebih murah saat ini,” jelas Eniya.
Meski demikian, ia mengakui masih ada pekerjaan rumah yang cukup besar dalam menentukan harga keekonomian listrik hasil kombinasi PLTS dan baterai tersebut.
“Masih PR untuk harga. Ini harga PLTS yang kombinasi baterai, yang baterainya rada banyak, itu kita masih diskusi terus, karena harganya rada bergerak turun,” ujarnya.