Setiap kota ditargetkan mampu menghasilkan listrik sebesar 20 MW dari sampah, dengan total kapasitas nasional mencapai 1 GW.
Selain menghasilkan listrik, teknologi pirolisis akan diterapkan untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.
Baca Juga:
Kasus Sampah Longsor di Bantargebang Merenggut Nyawa, Eks Kadis LH DKI Jakarta Jadi Tersangka
Sementara itu, sampah organik akan diolah menjadi bioenergi seperti biogas atau biomassa, yang tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga meningkatkan penggunaan energi terbarukan di Indonesia.
Sesuai rancangan Perpres dan merujuk pada Perpres Nomor 35 Tahun 2018, harga listrik dari pengolahan sampah diperkirakan sekitar 13 sen USD per KWh.
Angka ini jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar diesel yang memiliki harga pokok produksi (HPP) mencapai 30 sen USD per KWh.
Baca Juga:
Tirta Asasta Depok Angkut 10 Ton Sampah dari Ciliwung, Tegaskan Komitmen Lingkungan
Dengan harga yang lebih terjangkau, program ini tidak hanya menjadi solusi bagi masalah lingkungan, tetapi juga menawarkan opsi ekonomis dalam penyediaan listrik di berbagai daerah.
Pemerintah menargetkan pada tahun 2029, seluruh kabupaten/kota di Indonesia sudah memiliki sistem pengolahan sampah modern yang terintegrasi.
"Kami mendorong agar implementasi target yang telah ditetapkan segera direalisasikan. Proses pengolahan sampah sudah mulai berjalan, dan kami optimis target nasional akan tercapai pada 2029," pungkasnya.