Program ini memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam budidaya dan penggemukan kepiting soka, pemanfaatan fly ash and bottom ash (FABA) sebagai material terumbu karang buatan dan rumah ikan atau bioreef block, edukasi mengenai lingkungan, penanaman pohon, hingga bantuan sarana produksi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Tim PLN melakukan pengecekan kepiting soka pada rak budi daya Kelompok Nelayan "Seloka Crabs" di Desa Tanjung Seloka, Kotabaru, Kalimantan Selatan. Melalui program berkelanjutan Desa Berdaya PLN, nilai jual hasil budi daya nelayan kini semakin meningkat dan pendapatan kelompok menjadi lebih stabil.
Baca Juga:
PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik Flores Pascagempa M7,7, 11 Gardu Induk Kembali Normal
"Dulu kami hanya menjual kepiting apa adanya, ukurannya kecil dan harganya rendah. Sekarang, setelah dibudidayakan dan digemukkan, nilainya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti," ungkap Irhamsyah.
Menurut Irhamsyah, keberhasilan program tersebut tidak semata-mata diukur dari peningkatan pendapatan.
Hal yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kesadaran warga untuk menjaga kawasan pesisir dan laut yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan mereka.
Baca Juga:
Kejar Transisi Energi, PLN Percepat Pengembangan 9,2 GW PLTA dan PLTM
"Kalau laut tetap terjaga, kami yakin penghidupan masyarakat juga akan terus berlanjut. Sekarang kami tidak hanya memikirkan hasil hari ini, tetapi juga bagaimana sumber daya laut tetap ada untuk anak cucu kami nanti," ujarnya.
Membuka Akses Kerja bagi Lulusan SMK di Jawa Tengah
Semangat pemberdayaan masyarakat juga terlihat di Semarang, Jawa Tengah. Di wilayah tersebut, tantangan mendapatkan pekerjaan masih menjadi persoalan bagi sebagian lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.