"Karena dari sisi impor kan memang ada kenaikan dikarenakan aktivitas ekonominya meningkat, sehingga membutuhkan barang impor lebih banyak, lalu juga adanya faktor musiman lebaran, terus juga adanya permintaan valas yang lebih tinggi untuk membayar impor minyak yang lebih mahal, jadi itu," ujarnya.
Meski defisit transaksi berjalan melebar, Myrdal menilai beberapa komponen transaksi berjalan lainnya justru menunjukkan perbaikan.
Baca Juga:
Emas Naik Gila-Gilaan, Ekonom: Jangan Terlalu Senang Dulu!
Defisit primary income tercatat belum terlalu besar karena musim pembagian dividen belum terjadi pada kuartal pertama. Sementara secondary income mengalami kenaikan yang mencerminkan meningkatnya remitansi pekerja migran Indonesia. Selain itu, defisit pada pos jasa ekspor juga disebut mengalami penurunan.
Kendati belum melihat pelemahan fundamental yang serius, Myrdal mengingatkan tekanan rupiah berpotensi menimbulkan risiko perlambatan ekonomi apabila berlangsung terlalu lama.
Menurutnya, pelemahan rupiah bisa membuat pelaku usaha menahan ekspansi karena biaya impor dan bunga semakin mahal.
Baca Juga:
Ekonom Sarankan Indonesia Tingkatkan Belanja Sosial Sebelum Bergabung dengan OECD
"Jadi kalau rupiahnya melemah, kita khawatir belanja impor juga turun. Kalau belanja impor turun, berarti itu menjadi sinyal kalau aktivitas ekonomi melambat. Dikarenakan pelaku bisnis juga saat ini kesulitan untuk melakukan ekspansi di saat rupiah kita melemah. Lalu juga dari sisi biaya suku bunga juga kan sekarang naik ya. Jadi ini semakin mempersulit pebisnis untuk melakukan aktivitas ekspansi bisnis," ujarnya.
Perlu diketahui, nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026), dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.690/US$ atau terdepresiasi 0,28% dan sempat tembus level Psikologisnya di Rp17.700/US$.