WAHANANEWS.CO, Jakarta - PT PLN (Persero) terus mempertegas komitmennya dalam mendorong transformasi industri pertambangan nasional menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi strategis dengan sejumlah perusahaan tambang batu bara, yang difokuskan pada percepatan elektrifikasi operasional tambang serta peningkatan efisiensi energi.
Baca Juga:
PLN Dukung Industri Kertas Nasional, IKPP Karawang Dapat Pasokan Listrik 250 MVA
Langkah konkret ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dan Memorandum of Understanding (MoU) terkait Integrated Business Solution.
Melalui kesepakatan ini, PLN akan menyuplai kebutuhan listrik ke berbagai perusahaan tambang dengan kapasitas yang signifikan, di antaranya PT Trubaindo Coal Mining sebesar 30 MVA, PT Sembada Makmur Sejahtera sebesar 55 MVA, PT Marga Bara Jaya sebesar 35 MVA, PT Maruwai Coal sebesar 71 MVA, PT Makmur Sejahtera Wisesa sebesar 106 MVA, serta PT Berau Coal sebesar 29 MVA.
Selain penyediaan listrik, PLN melalui anak usahanya juga mengembangkan layanan terintegrasi guna mendukung kebutuhan infrastruktur kelistrikan di sektor tambang.
Baca Juga:
PLN UID Jabar Perkuat Kompetensi EV di SMKN 8 Bandung, Dari Teori Jadi Praktik Nyata
Kerja sama ini mencakup pembangunan instalasi dan gardu pelanggan bersama PT Masmindo Dwi Area, pembangunan instalasi milik pelanggan dengan PT Maruwai Coal, hingga penyusunan engineering design serta pembangunan instalasi tegangan tinggi untuk PT Sembada Makmur Sejahtera.
Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam implementasi konsep green mining, yakni praktik pertambangan yang mengedepankan penggunaan energi bersih, efisiensi operasional, serta keandalan sistem energi.
Penandatanganan Integrated Business Solution oleh Presiden Direktur PT Maruwai Coal, Totok Azhariyanto (kedua dari kiri), Direktur PT Sembada Makmur Sejahtera, Ten Yi Lung (keempat dari kiri), dan Direktur Project PT Masmindo Dwi Area, Dhira Nandana (kanan) yang disaksikan oleh EVP BKI, Abdan Hanif Satria (kiri), EVP PPR, Joni (ketiga dari kiri), EVP APR, Dini Sulistyawati (ketiga dari kanan), dan Direktur Operasi dan Pengembangan PT PLN Nusa Daya, Reny Wahyu Setiaswan (kedua dari kanan) di Jakarta, Selasa (21/04/2026).
Dengan memanfaatkan listrik sebagai sumber energi utama, diharapkan penggunaan bahan bakar fosil dapat ditekan secara signifikan, khususnya dalam operasional alat berat.
Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ari Hendrawanto, menegaskan bahwa elektrifikasi alat berat merupakan langkah krusial dalam menurunkan emisi karbon di sektor pertambangan.
Hal ini sejalan dengan target nasional untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 atau bahkan lebih cepat.
"Strategi pengurangan emisi dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti pengurangan produksi, substitusi energi ke sumber lain seperti biomassa, serta peningkatan efisiensi dan elektrifikasi. Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu solusi utama, mengingat konsumsi energi terbesar berada pada kegiatan pengangkutan dan pemindahan material," ujar Ari dalam Focus Group Disscusion Powering The Future of Green Mining di Jakarta, Selasa (21/04/2026).
Lebih lanjut, Ari menyebutkan bahwa selain berdampak pada lingkungan, elektrifikasi juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi pelaku industri.
Efisiensi biaya operasional dapat dicapai melalui perbandingan harga bahan bakar diesel dengan tarif listrik yang lebih kompetitif.
Sesi Focus Group Discussion dengan narasumber Koordinator Konservasi Minerba dan Batubara Kementerian ESDM, Ari Hendarwanto (kiri), Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Ir. Priyadi (kedua dari kiri), Division Head Project Expansion PT Borneo Indobara, Adi Supriyatna (ketiga dari kiri), Vice President Pelanggan Korporasi dan Bisnis Indivisi DIV APR PLN, dan Faisal Muslim (kedua dari kanan) dan moderator Head of Private and Business Law Study sekaligus Dosen di Jentera Law School, Muhammad Faiz Aziz (kanan) di Jakarta, Selasa (21/04/2026).
"Jika diterapkan secara luas, efisiensi yang dihasilkan akan sangat besar," imbuhnya.
Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero), Adi Priyanto, menekankan bahwa transisi energi bukan hanya soal menjawab isu perubahan iklim, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
"Pengembangan green mining di sektor pertambangan menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memastikan keberlanjutan industri batu bara ke depan," ujar Adi.
Ia juga menambahkan bahwa PLN siap menghadirkan berbagai solusi layanan kelistrikan yang inovatif dan fleksibel sesuai kebutuhan masing-masing perusahaan tambang.
Forum diskusi yang digelar menjadi wadah penting untuk memetakan potensi pertumbuhan kebutuhan listrik di sektor ini.
"Forum ini menjadi momentum untuk mengidentifikasi potensi pertumbuhan demand listrik sektor tambang, menentukan batas optimal layanan PLN, serta merumuskan strategi pengelolaan aset kelistrikan pasca umur tambang," papar Adi.
Dari sisi teknis, Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati, menjelaskan bahwa konsumsi energi terbesar dalam aktivitas tambang berada pada tahap pengangkutan material (hauling).
Oleh karena itu, penggunaan listrik pada proses tersebut dinilai menjadi solusi efektif untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi.
Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati dalam sambutannya, Selasa (21/04/2026) mengidentifikasikan bahwa titik kritis konsumsi energi berada pada tahap pengangkutan hasil tambang, pemanfaatan energi bersih berbasis listrik pada proses ini menjadi salah satu langkah konkret untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus juga menurunkan emisi.
"Oleh karena itu, pemanfaatan energi bersih berbasis listrik pada proses hauling ini menjadi salah satu langkah konkret untuk bagaimana kita meningkatkan efisiensi operasional sekaligus juga menurunkan emisi," ujar Dini.
Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Priyadi, menyambut baik kolaborasi antara PLN dan pelaku industri tambang.
Ia menilai sinergi ini dapat menciptakan hubungan saling menguntungkan sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
"Nah ini adalah kesempatan yang baik, baik bagi kita produsen batu bara maupun PLN sebagai penyedia strumnya. Supaya ini terjadi simbiosis mutualisme yang paling menguntungkan," imbuh Priyadi.
Dukungan terhadap elektrifikasi tambang juga datang dari pelaku industri, salah satunya PT Borneo Indobara.
Division Head Project Expansion PT Borneo Indobara, Adi Supriyatna, mengungkapkan bahwa langkah elektrifikasi menjadi strategi penting perusahaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta volatilitas harga bahan bakar.
“Elektrifikasi PT Borneo Indobara merupakan langkah strategis menuju pertambangan hijau untuk merespons ancaman perubahan iklim dan tren kenaikan harga bahan bakar. Transisi ini didukung oleh pembangunan infrastruktur kelistrikan secara masif bersama PLN guna mengoperasikan berbagai alat berat listrik serta stasiun pengisian daya bagi 700 unit truk listrik” pungkasnya (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]