Meski demikian, Anton menegaskan bahwa sejatinya instrumen investasi yang relatif aman tidak hanya terbatas pada emas.
“Misalnya obligasi atau dalam bentuk real seperti SBN itu sebenarnya juga bisa menjamin bahwa nilainya nanti tidak akan mengalami penurunan,” jelasnya.
Baca Juga:
Terungkap, Surat Bos Travel Haji ke Yaqut Jadi Awal Skandal Kuota Haji Rp622 Miliar
Namun, ia menilai persepsi global masih melihat emas sebagai simbol utama investasi aman dalam jangka panjang.
Kenaikan harga emas juga didorong oleh kondisi geopolitik global yang dinilai semakin tidak kondusif.
Anton menyebut berbagai ketegangan internasional, mulai dari kebijakan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump hingga konflik di Timur Tengah, turut memperlebar ketidakpastian ekonomi dunia.
Baca Juga:
Korem 042/Gapu Gelar Bazar Ramadhan TNI 2026, Warga Jambi Timur Antusias Berburu Sembako Murah
“Bagaimana kebijakan Presiden Trump untuk Venezuela, kemudian rencana untuk menguasai Greenland meskipun belakangan mulai agak turun ketegangannya,” sebut Anton.
Ia juga menyoroti kondisi Venezuela dan Iran yang dinilai berpengaruh langsung terhadap pasokan minyak dunia.
“Venezuela mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia, kemudian kondisi Iran juga bisa mempengaruhi suplai minyak dunia, hal-hal ini mengkhawatirkan bagi investor global,” lanjut Anton.