Selain itu, krisis ekonomi di Inggris dan meningkatnya angka pengangguran turut memperburuk sentimen pasar.
“Kemudian Amerika sendiri dengan pola kebijakan politiknya Trump yang menyebabkan dunia jadi lebih tidak stabil,” kata Anton.
Baca Juga:
Kebakaran di Bukit Lau Kersik Dairi, 7 Rumah Hangus
Situasi global tersebut mendorong investor memilih menahan diri dari sektor produktif dan mengamankan asetnya dalam bentuk emas.
“Dibanding berinvestasi di sektor-sektor produktif atau membangun bisnis yang real, mereka lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk emas,” tegas Anton.
Ia menilai semakin tingginya harga emas justru menjadi indikator bahwa kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja.
Baca Juga:
Danau Toba Dikaji Jadi KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Ciptakan Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera Utara
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga emas juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dan efek psikologis pasar.
Menurut Anton, ekspektasi bahwa harga emas akan terus naik mendorong masyarakat berlomba-lomba membeli emas.
“Ada persepsi psikologis karena semua orang berburu emas kemudian ikut beli dengan ekspektasi nanti harganya tambah naik,” ulas Anton.