Salah satu dampak nyata terlihat pada rute internasional, terutama ke kawasan Timur Tengah dan Eropa. Maskapai harus menghindari wilayah konflik sehingga rute penerbangan menjadi lebih panjang.
"Terdapat penambahan biaya operasional maskapai yang melakukan penerbangan ke luar negeri karena harus melakukan rute memutar," ungkap INACA.
Baca Juga:
Terjebak Kabut dan Medan Terjal, Tim SAR Menginap di Lokasi Jenazah Korban ATR 42-500
Di sisi permintaan, jumlah penumpang juga mengalami penurunan, khususnya pada rute umrah yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama trafik internasional.
"Jumlah penumpang ke Timur Tengah terutama penerbangan umrah menjadi berkurang," kata mereka.
Tidak hanya itu, potensi wisatawan mancanegara ke Indonesia juga terancam menurun akibat kondisi global yang tidak menentu.
Baca Juga:
Basarnas Kerahkan Tim SAR Cari Korban Kecelakaan Pesawat di Maros
"Turisme ke Indonesia juga akan terdampak, baik dari Eropa maupun Timur Tengah," lanjut INACA.
gangguan juga terjadi pada aspek teknis, khususnya dalam perawatan pesawat. Rantai pasok suku cadang mengalami keterlambatan yang cukup signifikan.
"Pengadaan spareparts untuk pesawat yang sedang dalam perawatan terganggu, di mana pengiriman yang sebelumnya 2-3 hari menjadi 7-10 hari," jelas INACA.