WahanaNews.co, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memperkuat promosi produk kreatif Indonesia di pasar global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui gelar wicara (talkshow) dan gerai sementara (pop-up store) bertajuk “Weaving Stories: Dialog Artisan dan Desainer” yang digelar di Alun Alun Indonesia, Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Kemendag melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) bersama Rumah Tenun Magelang (Rutema) dan Alun Alun Indonesia. Pop-up store tersebut menampilkan beragam produk wastra dan kriya hasil kolaborasi artisan dan desainer lokal Rutema, yang dibuka untuk umum hingga 27 Mei 2026.
Baca Juga:
Bappebti Rilis Rating Pialang Berjangka Triwulan I-2026, Tujuh Perusahaan Raih Peringkat Teratas
Menteri Perdagangan Budi Santoso atau Mendag Busan mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus upaya memperkuat ekosistem industri kreatif kriya berbasis serat alam Indonesia.
“Rutema merupakan contoh UMKM kreatif yang ketika didorong untuk berkembang dan dibukakan pasar ekspor, mampu menunjukkan kualitas dan potensinya,” ujar Mendag Busan dalam keterangan terpisah.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Ari Satria, menyampaikan bahwa produk kreatif Indonesia memiliki peluang besar di pasar internasional. Menurut dia, pasar utama produk kreatif Indonesia saat ini mencakup Amerika Serikat, Thailand, Hong Kong, Singapura, hingga kawasan Eropa.
Baca Juga:
Kemendag Raih Predikat “AA” pada Anugerah Kearsipan Nasional 2026
Ia menilai pasar global masih terbuka luas terhadap produk yang mengedepankan desain, aspek gaya hidup (lifestyle), dan keterampilan tangan (craftsmanship).
“Tren global saat ini semakin mengarah pada produk berkelanjutan, berbahan alami, buatan tangan, dan memiliki narasi budaya. Tren tersebut telah diangkat sebagai kekuatan utama dari tenun dan produk Indonesia, seperti yang juga dikembangkan Rutema,” kata Ari.
Rutema sendiri merupakan salah satu UMKM yang berkembang melalui program “Product Placement Pilihan Busan” yang diinisiasi Kemendag. Program tersebut mengkurasi berbagai produk UMKM berpotensi ekspor untuk dipajang di ruang tamu Menteri Perdagangan RI dan diperkenalkan kepada tamu dalam maupun luar negeri.
Program ini juga terintegrasi dengan berbagai promosi perdagangan, mulai dari business matching, pameran dagang, coaching ekspor, hingga promosi melalui perwakilan perdagangan RI di luar negeri.
Sejak 2025, Kemendag telah menjalankan empat periode program Product Placement Pilihan Busan dengan melibatkan 82 UMKM terkurasi. Selain itu, Kemendag juga memfasilitasi lima sesi business matching guna memperluas akses pasar ekspor para peserta.
Program tersebut turut dipamerkan dalam Trade Expo Indonesia 2025 dan berhasil mencatatkan transaksi senilai 1,08 juta dollar AS serta mengantarkan peserta menembus 23 negara tujuan ekspor.
Chief Executive Officer Rutema, Rif Fatka Ridwan, mengapresiasi dukungan Kemendag terhadap perkembangan usahanya melalui berbagai program pendampingan dan promosi.
“Program Product Placement Pilihan Busan telah membuka ruang yang sangat penting bagi brand lokal seperti kami untuk memperluas pasar, membangun jejaring, serta memperkenalkan karya Indonesia ke pasar yang lebih luas,” ujar Fatka.
Selain itu, Rutema juga pernah mengikuti program Klinik Desain Indonesia Design Development Center (IDDC). Melalui program tersebut, Kemendag memberikan pendampingan desain kepada pelaku UMKM dengan mempertemukan mereka bersama desainer profesional. Pendampingan itu meliputi konsultasi pengembangan produk, desain kemasan, visual branding, hingga persiapan menuju pasar ekspor.
Sebagai informasi, Rutema merupakan usaha kerajinan tenun serat alam asal Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang berdiri sejak 1988. Usaha ini berfokus pada produksi kain tenun premium berbahan serat alam lokal menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Tidak hanya memproduksi tenun, Rutema juga mengembangkan konsep eduwisata berbasis proses pengolahan serat alam dan tenun tradisional, dengan mengedepankan pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan orientasi ekspor.
[Redaktur: Jupriadi]