Ia menjelaskan, Program Campuspreneur dirancang melalui empat pilar utama, yakni peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pendampingan, pengembangan inovasi produk dan model bisnis, pembukaan akses pasar melalui promosi dan business matching, serta penguatan kemitraan dengan pemerintah, industri, dan mitra internasional.
“Melalui Program Campuspreneur, kami ingin membangun ekosistem kewirausahaan muda yang terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas, pengembangan inovasi produk, pembukaan akses pasar, hingga penguatan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Sugih.
Baca Juga:
ASEAN Harus Tetap Terbuka dan Tangguh Hadapi Ketidakpastian Global
Kemendag juga memfasilitasi business matching secara daring bekerja sama dengan 46 Perwakilan Perdagangan RI di 33 negara dan para pembina UMKM ekspor. Skema tersebut ditujukan bagi UMKM kategori emerging exporter dan established exporter agar dapat terhubung langsung dengan pembeli internasional.
Salah satu peserta lokakarya, pemilik usaha Replast yang bergerak di bidang daur ulang sampah plastik, Dafa Alif, menilai Program Campuspreneur memberikan pemahaman tidak hanya terkait pengembangan produk, tetapi juga akses pasar dan peluang ekspor.
“Harapannya, melalui Program Campuspreneur, UMKM di Jawa Barat bisa semakin siap menembus pasar ekspor,” ujar Dafa.
Baca Juga:
Florikultura Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp17 Miliar di Pameran Hortikultura Korea Selatan
Hal serupa disampaikan pemilik usaha Abah Sorgum, Neneng Supriati Ningsih. Ia mengaku memperoleh banyak masukan terkait pengembangan produk, terutama melalui sesi konsultasi bersama IDDC.
“Dari sesi konsultasi IDDC, kami mendapat banyak masukan untuk memperbaiki kemasan, memperkuat storytelling mengenai sorgum, serta menonjolkan keunikan produk karena sorgum ini sebenarnya merupakan harta karun yang memiliki potensi besar,” kata Neneng.
[Redaktur: Jupriadi]