“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, para investor juga menyampaikan harapan agar subsektor petrokimia semakin menarik bagi investasi baru. Salah satu faktor yang dinilai penting adalah penguatan perlindungan pasar domestik dari produk impor.
Baca Juga:
Industri AMDK Perkuat Pengelolaan Air Berkelanjutan dan Kontribusi Ekonomi Nasional
Pemerintah, lanjut Agus, akan terus mengupayakan pemenuhan kebutuhan bahan baku nasional dengan menjaga keseimbangan antara kebutuhan sektor energi dan industri.
Selain itu, muncul pula opsi pengembangan bahan baku substitusi nafta dari sumber domestik seperti crude palm oil (CPO). Meski secara ekonomi masih menghadapi tantangan, opsi ini dinilai layak untuk terus dikaji sebagai bagian dari diversifikasi bahan baku.
“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” tuturnya.
Baca Juga:
IKM Naik Kelas, Produk Dalam Negeri Masuk Rantai Pasok Perlengkapan Haji 2026
Menutup pernyataannya, Agus menekankan bahwa persaingan global dalam memperoleh bahan baku petrokimia diperkirakan akan semakin ketat di tengah situasi geopolitik saat ini.
“Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global,” pungkasnya.
[Redaktur: Jupriadi]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.