"Dalam perusahaan-perusahaan BUMN banyak sekali, untuk Bio Farma ini jangan ditargetkan profit. Tapi yang penting adalah bagaimana kita bisa membuat bahan baku sendiri gitu. Sebenarnya kalau bahan mentahnya, itu banyak di Indonesia. Cuman untuk memproses jadi bahan baku, kita rata-rata impor dari Cina, India. Kan sayang," ujar Rizal usai kunjungan.
Ia menegaskan bahwa pengembangan industri bahan baku obat tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek.
Baca Juga:
Pernah Mengaku Terlibat Aktif di PT ASR, Mengapa Nama Afrananta Tarigan Tidak Ada di Konferensi Pers Polda Jambi ?
Menurutnya, investasi di sektor tersebut harus dipandang sebagai investasi strategis yang memberikan manfaat jangka panjang bagi ketahanan kesehatan nasional sekaligus memperkuat daya saing industri farmasi Indonesia.
Rizal juga mengapresiasi langkah PT Kimia Farma yang mulai membangun fasilitas produksi bahan baku obat.
Ia berharap upaya tersebut mendapat dukungan investasi yang lebih besar sehingga kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan dan kebutuhan nasional secara bertahap dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Baca Juga:
WK Rokan Jadi Andalan Ketahanan Energi Nasional, DPR Pantau Strategi Peningkatan Produksi PHR
Menurutnya, peran Danantara sebagai pengelola investasi sangat penting dalam mempercepat pengembangan industri bahan baku obat nasional.
Dengan dukungan pendanaan yang memadai, pembangunan fasilitas produksi baru dinilai dapat dilakukan secara lebih masif.
"Jangan khawatir memberikan investasi yang besar untuk pabrik bahan baku obat. Kalau baru satu, kalau perlu lima kita bikin. Jadi Indonesia itu jadi nggak banyak impor," tegasnya.