Permintaan ekspor dari Qatar yang mencapai 20 kontainer berarti ratusan kali lipat dari produksi tahunan, menggambarkan tingginya potensi dan posisi Liberika Sepaku di mata pembeli internasional.
Menurut Sugiman, jika dihitung dari nilai efektif dan siklus produksi, Liberika bahkan mengungguli kelapa sawit yang selama ini menjadi komoditas primadona Kalimantan Timur.
Baca Juga:
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Scam, Kerugian Masyarakat Tembus Rp9 Triliun
Sugiman menekankan bahwa ini bukan sekadar soal mengejar komoditas baru tetapi juga menjaga warisan leluhur sekaligus membangun branding tersendiri yang tidak bersaing dengan Arabika atau Robusta yang sudah jenuh di pasar global.
Untuk mempercepat produksi, komunitas petani bersama Otorita IKN mencanangkan gerakan tanam massal yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat agar Liberika tidak hanya tumbuh di lahan luas tetapi juga menyebar hingga ke pekarangan rumah warga.
Sugiman mengatakan bahwa setiap anggota Kelompok Wanita Tani dan Dasawisma diwajibkan menanam minimal 10 pohon sebagai bagian dari strategi memperluas lahan produksi secara organik berbasis partisipasi masyarakat.
Baca Juga:
Karier Menanjak Berujung OTT, Dwi Budi Iswahyu Kini Jadi Tersangka Suap Pajak
Gerakan ini diyakini akan membuka sumber ekonomi baru bagi warga IKN dan Kalimantan Timur sekaligus memperkuat identitas Nusantara sebagai kota masa depan yang bertumpu pada kekuatan lokal yang bernilai global.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.