“Diversifikasi perdagangan akan membuat kita lebih tangguh untuk dapat menghadapi tantangan global,” kata dia.
Ke depan, IPBA akan mendukung promosi produk Indonesia melalui berbagai kegiatan, seperti misi dagang, forum bisnis, dan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon buyer, distributor, importir, hingga investor asal Filipina.
Baca Juga:
Kemendag Gandeng Telkom University Perkuat Ekosistem Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor
Asosiasi tersebut juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi dalam mengidentifikasi kebutuhan dunia usaha, membuka peluang kerja sama baru, serta menyampaikan tantangan perdagangan yang dihadapi pelaku usaha kedua negara.
Dalam mendukung peningkatan daya saing eksportir nasional, IPBA juga direncanakan menyediakan berbagai program capacity building bagi UMKM dan eksportir Indonesia. Program tersebut mencakup fasilitasi business matching oleh Kantor Atdag KBRI Manila, pelatihan ekspor, pemahaman regulasi dan standar produk Filipina, penguatan branding dan packaging, hingga pendampingan kesiapan ekspor.
Sementara itu, President IPBA Darmilo Sosa mengapresiasi dukungan pemerintah Indonesia terhadap pembentukan asosiasi tersebut.
Menurut dia, kolaborasi ekonomi antara Indonesia dan Filipina akan menjadi salah satu kunci pertumbuhan kawasan ASEAN di masa depan.
Baca Juga:
Florikultura Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp17 Miliar di Pameran Hortikultura Korea Selatan
“Masa depan pertumbuhan ASEAN terletak pada kolaborasi. Dengan dibentuknya IPBA, Indonesia dan Filipina menciptakan peluang baru bagi perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Darmilo.
Filipina saat ini tercatat sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia. Pada 2025, Filipina menempati posisi ke-8 negara tujuan ekspor Indonesia dengan total nilai ekspor mencapai 10,22 miliar dollar AS.
Di sisi lain, Indonesia juga menjadi negara pemasok utama keempat bagi kebutuhan impor Filipina.
Sejumlah produk Indonesia yang dinilai berpotensi besar di pasar Filipina antara lain produk logam, konsentrat bijih logam, dan minyak nabati. Kondisi tersebut memperlihatkan posisi strategis Indonesia dalam mendukung kebutuhan industri dan perdagangan Filipina.