WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan pada sektor peternakan, terutama dalam pengadaan sapi perah impor. Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui harga sapi perah yang didatangkan dari luar negeri mengalami kenaikan seiring menguatnya dolar AS.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun mengatakan, dampak pelemahan rupiah paling terasa pada upaya pemerintah dan pelaku usaha yang tengah berupaya menambah populasi sapi perah nasional untuk memenuhi kebutuhan susu dalam negeri.
Baca Juga:
Rupiah Melemah, Arnod Sihite Soroti Ketergantungan Impor: Devisa Negara Terus Terkuras
"Terkait dengan kenaikan harga dolar ya. Karena kita semangatnya ingin menambah populasi. Memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah. Umumnya kita ngambilnya dari Australia. Walaupun negara seperti New Zealand juga beberapa negara yang lain, kita tidak ada masalah," kata Makmun dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, Australia masih menjadi sumber utama impor sapi perah karena faktor kedekatan geografis dan kemudahan logistik. Namun, kenaikan kurs dolar membuat harga sapi yang diimpor ikut terdongkrak.
"(Australia) karena mungkin posisinya dekat. Dan dengan kenaikan dolar, ada pengaruh kenaikan dari harga sapinya," sebut dia.
Baca Juga:
Ekonom Ungkap Penyebab Rupiah Jebol Hingga Rp17.700 dan CAD US$4 Miliar
Meski demikian, Makmun menegaskan lonjakan harga sapi perah impor masih dalam batas yang relatif terkendali dan belum mengubah arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat populasi sapi perah nasional.
"Terkait dengan kenaikan ini atau perkembangan rupiah terhadap dolar. Namun tahun kemarin rata-rata teman-teman mengimpor harga sekitar Rp45 juta per ekornya sapi perah bunting. Tahun ini tidak sampai Rp50 juta per ekor. Ada kenaikan, tapi tidak sampai ke Rp50 juta (per ekor). Ada di bawah juga, ada kenaikan. Tidak terlalu jauh juga sih dari kondisi yang ada," jelasnya.
Selain berdampak pada impor ternak, pelemahan rupiah juga memberi tekanan terhadap industri pengolahan susu nasional yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor.