"Kenaikan biaya produksi yang dipengaruhi oleh pelemahan dari rupiah terhadap dolar memang ada ya pengaruhnya. Tapi karena kita masih ada penyerapan susu lokal juga. Secara total produksi tadi sampaikan 20% masih ada lokal. Kemudian ada efisiensi program-program di pabrik kami. Sehingga dampaknya itu kita bisa tidak lebih sampai 10%," ungkapnya.
Ia berharap peningkatan produksi susu dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sehingga gejolak eksternal seperti penguatan dolar tidak lagi menjadi beban besar bagi industri.
Baca Juga:
Rupiah Melemah, Arnod Sihite Soroti Ketergantungan Impor: Devisa Negara Terus Terkuras
"Semoga dengan usaha-usaha dan kerja sama. Kita supply chain jadi bisa lebih efisien ke depannya. Ketersediaan susu dalam negeri bisa meningkat, sehingga pengaruh-pengaruh eksternal seperti dolar ini tidak membebani kita," ujar dia.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti menegaskan pelemahan rupiah memang memberikan dampak terhadap sektor susu nasional yang masih bergantung pada impor.
"Ada pengaruh? Jelas. Mesti ada. Karena di sini terlihat memang susu ini banyak pemanfaatannya yang harus kita tingkatkan untuk ketahanan pangan, untuk gizi dan lainnya," kata Widiastuti.
Baca Juga:
Ekonom Ungkap Penyebab Rupiah Jebol Hingga Rp17.700 dan CAD US$4 Miliar
Untuk mengurangi risiko fluktuasi kurs, pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah mulai dari menjaga pasokan impor, kontrak pembelian jangka panjang, diversifikasi negara pemasok, hingga efisiensi rantai pasok.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi susu domestik melalui dukungan pembiayaan murah bagi peternak, penguatan kemitraan, hingga pengembangan sentra sapi perah.