General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Tjatur Lestijaman mengungkapkan, sekitar 80% kebutuhan bahan baku susu nasional masih berasal dari impor sehingga fluktuasi kurs tidak bisa dihindari.
"Kurang lebih karena Karena 80%. Dari kebutuhan susunya masih impor, dan harganya juga terpaut dengan dolar. Sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap biaya bahan baku Indomilk dalam hal ini," kata Tjatur dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga:
Rupiah Melemah, Arnod Sihite Soroti Ketergantungan Impor: Devisa Negara Terus Terkuras
Meski biaya bahan baku meningkat, perusahaan berupaya agar kenaikan tersebut tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk.
"Tetapi kami berkomitmen bahwa itu kita tidak akan persen diteruskan langsung 100% kepada konsumen. Jadi kita masih melihat bahwa masyarakat perlu ada daya beli yang masih bisa, masih terjangkau oleh masyarakat," ujarnya.
Baca Juga:
Ekonom Ungkap Penyebab Rupiah Jebol Hingga Rp17.700 dan CAD US$4 Miliar
Untuk menekan dampak pelemahan rupiah, perusahaan menjalankan berbagai program efisiensi di fasilitas produksinya.
"Dengan kondisi seperti itu, kami melakukan program-program efisiensi di pabrik-pabrik kami. Sehingga biayanya juga bisa ditekan. Pengaruh dari inflasi dolar ini tidak 100 persen kita teruskan ke konsumen," tutur dia.
Menurut Tjatur, kombinasi penyerapan susu lokal dan efisiensi operasional membuat dampak kenaikan biaya produksi masih dapat ditekan.