WahanaNews.co, Milan - Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Milan bersama Italian Chamber of Commerce for South East Asia (CCISEA) menggelar kegiatan Post-Event Coffee Break Salone del Mobile 2026 di kantor ITPC Milan, Italia, pada 29 April 2026.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menindaklanjuti partisipasi Indonesia dalam ajang desain internasional Salone del Mobile 2026 dan Salone Satellite 2026 yang berlangsung pada 21–26 April 2026 di Milan.
Baca Juga:
Mendag Resmikan IPBA, Perkuat Sinergi Ekonomi Indonesia-Filipina di Usia 75 Tahun Hubungan Diplomatik
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menyampaikan bahwa kegiatan post-event merupakan inisiatif penting dalam membuka peluang ekspansi furnitur nasional ke pasar Eropa. Menurutnya, pengakuan dunia terhadap desain Indonesia harus terus didorong agar semakin mampu menarik minat konsumen global.
“Kegiatan post-event difokuskan untuk menjaga momentum bisnis pascapameran sekaligus mendorong realisasi transaksi ekspor. Kami ingin memastikan ketertarikan para buyer selama pameran dapat segera berlanjut menjadi transaksi ekspor berkelanjutan,” ujar Puntodewi dalam keterangan terpisah dari Jakarta.
Ia menambahkan, pertemuan tersebut juga menjadi ajang untuk menunjukkan kesiapan produk furnitur Indonesia dalam memenuhi standar pasar internasional.
Baca Juga:
ASEAN Harus Tetap Terbuka dan Tangguh Hadapi Ketidakpastian Global
Kepala ITPC Milan, Seno Pratomo, menjelaskan bahwa kegiatan post-event kembali menampilkan produk furnitur hasil kurasi yang sebelumnya sukses menarik perhatian pengunjung pada ajang Salone del Mobile 2026 dan Salone Satellite 2026.
“Kami ingin menunjukkan kembali bahwa produk furnitur Indonesia tidak hanya kompetitif secara estetika, tetapi juga mengusung nilai inovasi dan keberlanjutan yang relevan dengan tren global,” kata Seno.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah jenama furnitur Indonesia turut dipamerkan, di antaranya Vivere, Bika Living x DuAnyam, dan Box Living. Selain itu, karya inovatif dari Mergrath Design, Zulyo Kumara Studio, dan Studio Banda yang sebelumnya tampil di Salone Satellite 2026 juga kembali diperkenalkan kepada para tamu undangan.
Beragam koleksi yang ditampilkan mengeksplorasi penggunaan material inovatif, mulai dari rotan hingga biomaterial berbasis limbah kopi sebagai implementasi konsep ekonomi sirkular.
Post-event juga menghadirkan sesi diskusi bertajuk “Beyond Making” bersama perwakilan Indonesia Design District (IDD), Domisilium Studio, Mergrath Design, Zulyo Kumara Studio, dan Studio Banda. Diskusi tersebut membahas filosofi desain furnitur Indonesia sekaligus proses kreatif di balik karya yang dipamerkan pada Salone del Mobile 2026 dan Salone Satellite 2026.
Sebanyak 35 pelaku industri kreatif hadir dalam kegiatan tersebut. Para narasumber memaparkan kesiapan ekosistem furnitur Indonesia dalam memenuhi standar desain dan produksi pasar internasional.
Manajer Komunikasi Pemasaran IDD, Adityo Ramadhan, menilai sesi diskusi tersebut menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kekuatan filosofi furnitur Indonesia yang memadukan unsur kemewahan dengan kearifan lokal.
“Acara ini merupakan ruang representatif untuk mempromosikan jenama lokal di Italia sekaligus memperkuat kolaborasi kreatif lintas sektor antara produsen dan desainer kedua negara,” ujar Adityo.
Apresiasi juga datang dari Santi Alaysius dari Domisilium Studio. Ia menilai kegiatan post-event menjadi wadah strategis untuk memperkuat jejaring antarpelaku industri kreatif setelah pelaksanaan Salone del Mobile 2026.
“Selain itu, sesi diskusi dalam kegiatan ini berlangsung komunikatif dan membuka peluang kolaborasi baru,” kata Santi.
Respons positif turut disampaikan mitra lokal asal Italia, Gregorio Magazzi dari Bonacina Italia. Ia mengaku terkesan dengan kualitas material produk Indonesia dan melihat potensi besar kolaborasi antara pelaku industri kreatif Indonesia dan Italia.
“Menurut saya, ini menjadi potensi kolaborasi antara perusahaan, seniman, dan desainer Indonesia yang memiliki kreativitas luar biasa,” ujarnya.
Melalui pendekatan diplomasi hospitality, para tamu undangan juga diajak merasakan kekayaan budaya Nusantara melalui sajian kopi Wonogiri dan kudapan tradisional seperti klepon, wingko, serta sosis solo.
Seno optimistis sinergi promosi furnitur dan kuliner melalui kegiatan post-event mampu memperkuat citra Indonesia di pasar Eropa. Pada kesempatan tersebut, ITPC Milan juga mempromosikan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang akan digelar tahun ini.
“Kami mengundang para pembeli, distributor, dan pelaku industri kreatif di Italia untuk hadir ke Indonesia guna menjajaki peluang kerja sama bisnis dengan produsen nasional,” pungkas Seno.
[Redaktur: Jupriadi]