WAHANANEWS.CO, Jakarta - Proyek kereta api Trans Sumatra yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung mulai memasuki babak baru setelah pemerintah menyiapkan berbagai skema pendanaan kreatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan jaringan rel sepanjang Pulau Sumatra itu diperkirakan mencapai US$25 miliar atau sekitar Rp350 triliun sehingga pemerintah membuka peluang keterlibatan sektor swasta maupun Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Baca Juga:
Heboh Investasi Bodong di Purwokerto, OJK Langsung Panggil Direksi Bank Mantap
Tidak mungkin seluruh kebutuhan pembiayaan proyek sebesar itu hanya mengandalkan kemampuan fiskal negara sehingga pemerintah mulai menyusun berbagai alternatif pendanaan.
"Kita akan tentu harus berinovasi ya. Tidak hanya mengandalkan dari anggaran pemerintah saja, tapi kita harus berinovasi supaya kita bisa mendapatkan pendanaan di luar APBN tentunya," kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Pembangunan jalur kereta yang membentang dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung menjadi salah satu proyek transportasi strategis nasional yang diproyeksikan memperkuat konektivitas logistik dan mobilitas masyarakat di Pulau Sumatra.
Baca Juga:
Bergerak Cepat Panggil BPKP dan PPATK, Prabowo Akui Terima Laporan Penyimpangan BGN
Pemerintah juga menilai moda transportasi berbasis rel memiliki keunggulan dalam meningkatkan efisiensi distribusi barang sekaligus menekan biaya logistik antardaerah.
Pengembangan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa merupakan salah satu arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang kini tengah dimatangkan pemerintah.
"Nah ini kita akan matangkan, kemudian kita akan segera tindaklanjuti sebagai bagian dari harapan maupun keinginan Presiden, untuk mengembangkan transportasi kereta api yang lebih efisien, khususnya di luar Jawa," ujar Dudy.