WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini bertengger di level Rp17.600/US$ tak lama lagi akan berakhir.
Sebagaimana diketahui, sejak awal pekan ini, kurs rupiah betah bertengger di level atas Rp17.600/US$. Bahkan, berdasarkan data Refinitv, pada Selasa per pukul 09.13 WIB, rupiah telah melemah ke level Rp17.700/US$, sebelum akhirnya bergerak ke Rp 17.695/US$ saat penutupan perdagangan.
Baca Juga:
DPR Minta BI Tekan Dolar ke Rp16.000-an, Ini Alasannya!
"Ingat rupiah tidak akan bergerak di level ini terlalu lama.," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, dikutip Rabu (19/5/2026).
Purbaya menegaskan, keyakinan ini ia dasari dari masih derasnya potensi aliran modal asing yang membawa pasokan dolar AS ke Indonesia, imbas dari kebijakannya melakukan stabilisasi di pasar obligasi dengan cara membeli surat berharga negara (SBN) yang dilepas oleh investor global.
"Tadi kita liat ada perbaikan sentimen ke pasar obligasi kan. dDana mulai masuk ke sini dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat," tegas Purbaya.
Baca Juga:
Rupiah di Zona Merah Tembus 17.320/US$, Airlangga: Tidak Hanya RI
Purbaya mengaku sudah melakukan kebijakan pembelian kembali atau buyback SBN yang dilego investor itu sejak Rabu (13/5/2026). Saat itu, ia membeli obligasi negara yang dilepas investor senilai Rp100 miliar. Lalu, pada awal pekan ini Rp830 miliar, dan Selasa Rp1,29 triliun.
Ia menyiapkan dana senilai Rp2 triliun per hari untuk kebijakan buyback SBN dari hasil mekanisme cash management atau pengelolaan uang tunai yang ada di APBN 2026. SBN yang dibeli kembali itu digunakan untuk operasi perbendaharaan negara, termasuk menjual kembali kepada investor nantinya.
Dengan realisasi buyback yang di bawah dana Rp2 triliun itu, Purbaya menganggap artinya memang sedikit investor yang melego SBN pemerintah, sebab sentimen mereka masih positif untuk memiliki surat utang negara dan menjaga pasokan dolar di dalam negeri.