Lebih lanjut, ia berpandangan bahwa keterbukaan terhadap talenta global dalam kepemimpinan BUMN merupakan langkah adaptif di tengah kompetisi ekonomi dunia yang semakin kompleks.
“Kalau ingin bersaing di level global, maka standar kepemimpinan dan tata kelola juga harus mengacu pada praktik terbaik dunia,” katanya.
Baca Juga:
Rencana Danantara Pangkas 1.000 BUMN Jadi 300 Disorot Lembaga Pemeringkat Internasional
Ia menambahkan, penguatan tata kelola melalui Danantara akan berdampak langsung terhadap keberhasilan agenda besar pemerintah, mulai dari hilirisasi sumber daya alam hingga swasembada pangan dan energi.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengelolaan aset negara ke depan harus berbasis integritas sistem, bukan hanya figur, agar keberlanjutan kebijakan tetap terjaga meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.
“Dengan sistem yang kuat, transparansi yang terjaga, dan profesionalisme yang konsisten, maka kepercayaan publik dan investor akan tumbuh, dan itu menjadi modal utama bagi percepatan pembangunan nasional,” ujarnya.
Baca Juga:
Danantara Angkat Tangan, Negosiasi Kapal Pertamina di Selat Hormuz Bukan Ranahnya
Ia juga menilai keberadaan Danantara dengan aset kelolaan yang besar dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi global, terutama dalam menarik investasi dan membangun kemitraan internasional.
“Ini adalah peluang besar untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi yang disegani, asalkan tata kelolanya dijaga dengan disiplin dan visi jangka panjang,” kata Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.