WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS belum memicu kepanikan di sektor perbankan nasional karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi likuiditas dan permodalan bank masih berada pada level yang kuat sehingga potensi terjadinya bank rush dinilai sangat kecil.
Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pelemahan rupiah, OJK menegaskan bahwa indikator utama yang biasanya memicu penarikan dana besar-besaran bukanlah pergerakan kurs semata melainkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.
Baca Juga:
Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui: Babi Pernah Mendominasi Meja Makan Orang Arab
Situasi politik, keamanan, dan ekonomi nasional saat ini masih dinilai kondusif sehingga belum terdapat faktor yang dapat mendorong terjadinya kepanikan massal di kalangan nasabah.
" Kami memandang saat ini tidak terdapat potensi bank rush karena situasi politik, keamanan, dan ekonomi Indonesia masih kondusif tentu saja," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), Jumat (5/6/2026).
Menurut Dian, kepercayaan masyarakat tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas industri perbankan nasional di tengah berbagai tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.
Baca Juga:
Jangan Terlewat, Seleksi Anggota Badan Supervisi OJK Dibuka Sampai 12 Juni 2026
Oleh karena itu, OJK meminta seluruh perbankan untuk terus menjaga kesehatan usaha, menerapkan prinsip kehati-hatian, serta memperkuat manajemen risiko agar sentimen negatif tidak berkembang menjadi kepanikan di masyarakat.
"Bank rush pada umumnya diakibatkan oleh isu kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan," kata Dian.
Ia menjelaskan bahwa OJK terus memantau perkembangan sektor perbankan secara intensif mengingat kondisi global masih dibayangi ketegangan geopolitik, fluktuasi harga minyak dunia, dan penguatan indeks dolar AS yang memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.