“Nah, fungsi SAL ini adalah untuk fiscal buffer,” ungkap Bhima saat dimintai tanggapan, Selasa (7/4/2026).
Ia menekankan bahwa arus kas jauh lebih krusial dibandingkan potensi penerimaan pajak tahunan karena kebutuhan belanja rutin, pembayaran bunga utang, hingga subsidi energi memerlukan dana tunai yang tersedia.
Baca Juga:
KPK Dalami Dugaan Suap Proyek Bupati Rejang Lebong, Fokus THR Warga
Bhima memperingatkan bahwa jika penerimaan negara menurun atau penerbitan surat utang terhambat akibat kondisi geopolitik dan menurunnya minat investor, maka SAL menjadi satu-satunya andalan.
“Sangat tidak aman, rapuh,” tuturnya.
Ia juga mengkhawatirkan potensi kekeringan likuiditas yang dapat berdampak pada terganggunya pelayanan publik, belanja rutin pemerintah, serta berbagai program penting lainnya.
Baca Juga:
Sidang Perdana Korupsi PGN Digelar, Hendi Prio Santoso Hadapi Dakwaan
Dalam menghadapi situasi tersebut, Bhima menyarankan agar pemerintah tidak gegabah menggunakan SAL untuk mendukung penyaluran kredit melalui bank-bank Himbara.
“Jangan gegabah menggunakan SAL untuk kredit,” katanya.
Menurutnya, penempatan dana sebesar Rp200 triliun ke Himbara belum terbukti efektif dalam mendorong pertumbuhan kredit, khususnya untuk sektor UMKM.