Kalkulasi skenario prudent ini menegaskan adanya gap signifikan antara target dan potensi realisasi berdasarkan kontribusi 10 besar BUMN.
Fakta pertama yang muncul adalah adanya kekurangan Rp42,30 triliun yang harus ditutup agar target tahunan tercapai.
Baca Juga:
Geopolitik Memanas, Danantara Justru Agresif Ekspansi Investasi
Fakta kedua menimbulkan pertanyaan apakah ratusan BUMN dan anak usaha di luar 10 besar mampu menutup kekurangan tersebut berdasarkan data historis.
Jawabannya dinilai sangat tidak mungkin karena struktur profitabilitas BUMN sangat terkonsentrasi.
Data di lapangan yang juga diakui manajemen Danantara menunjukkan lebih dari 90 persen total dividen BUMN hanya berasal dari 10 perusahaan elite tersebut.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Investor Lokal Lebih Banyak Terlibat Investasi Proyek Listrik Sampah Danantara
Sementara itu, sekitar 1.000 lebih entitas BUMN lainnya mayoritas menjalankan Public Service Obligation (PSO), memiliki skala bisnis kecil, atau bahkan mengalami kerugian kronis.
Secara kolektif, kontribusi dividen dari BUMN di luar 10 besar diperkirakan hanya berada di kisaran Rp1 hingga Rp4 triliun sehingga tidak signifikan untuk menutup kekurangan Rp42,30 triliun.
Dengan kondisi tersebut, untuk mencapai target Rp150 triliun secara berkelanjutan, Danantara tidak dapat mengandalkan BUMN di luar kelompok utama dan harus mendorong peningkatan profitabilitas portofolio inti yang ada.