Menurutnya, jika kesepakatan yang saat ini sedang dibahas benar-benar ditandatangani, dampaknya akan jauh lebih buruk bagi Israel.
"Jika perjanjian yang sedang dibicarakan saat ini ditandatangani, kerusakannya akan menjadi lebih buruk. Miliaran dolar yang akan mengalir ke kantong rezim Iran akan sangat membantu mereka," ujarnya.
Baca Juga:
Ancaman Mengerikan Iran untuk Netanyahu di Tengah Kecamuk Perang
Sejak awal perang, elite keamanan Israel sebenarnya sudah memperingatkan Netanyahu bahwa ambisinya mengejar perubahan rezim di Iran dapat mengorbankan aset diplomatik paling vital Israel, yakni dukungan bipartisan dari AS.
Mereka juga menilai Netanyahu kemungkinan memanfaatkan perang untuk kepentingan politik domestik menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung paling lambat Oktober mendatang.
Kini, hampir tiga bulan setelah perang dimulai, jajak pendapat di AS menunjukkan konflik Iran justru berpotensi merusak warisan hubungan strategis puluhan tahun antara Washington dan Tel Aviv.
Baca Juga:
Situasi Perang di Timteng Kian Memanas: IRGC Iran Janji Bunuh Netanyahu
Menurut laporan New York Times, Israel bahkan tidak dilibatkan dalam proses negosiasi terbaru antara AS dan Iran. Pemerintah Israel disebut tidak mendapat pembaruan terkait perkembangan pembicaraan dan terpaksa mengandalkan jaringan sekutu regional serta operasi intelijen untuk memantau kepemimpinan Iran.
Kesepakatan yang sedang dinegosiasikan tim Trump memang diyakini masih akan membatasi program nuklir Iran. Namun banyak pihak di Israel menilai pembatasan tersebut jauh lebih longgar dibanding kesepakatan era Presiden Barack Obama pada 2015, yakni Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Netanyahu sendiri merupakan salah satu pengkritik paling keras JCPOA saat kesepakatan itu diumumkan di Washington.