Kekhawatiran terhadap ancaman Iran dan sekutunya memang masih menjadi alasan utama tingginya dukungan publik Israel terhadap keputusan berperang, bahkan setelah berminggu-minggu dihujani serangan rudal.
Namun setelah gencatan senjata berlaku, survei Israel Democracy Institute menunjukkan lebih dari sepertiga warga Yahudi Israel merasa sangat atau cukup tidak puas dengan penghentian perang. Jumlah itu lebih besar dibanding warga yang merasa senang perang dihentikan.
Baca Juga:
Ancaman Mengerikan Iran untuk Netanyahu di Tengah Kecamuk Perang
Meski demikian, dukungan terhadap pemerintah Netanyahu mulai menurun seiring konflik berkepanjangan tanpa tanda-tanda perubahan rezim di Iran seperti yang dijanjikan sebelumnya.
Bahkan pada April lalu, ketika optimisme terhadap tekanan AS terhadap Iran masih cukup tinggi, tingkat kepuasan publik terhadap penanganan perang oleh pemerintah Israel tetap rendah. Survei yang sama menunjukkan hanya sedikit di atas sepertiga warga yang menilai kinerja pemerintah secara positif.
Kritik memang tidak sepenuhnya diarahkan kepada Netanyahu. Tidak semua pihak yang kecewa terhadap kesepakatan menyesali perang tersebut. Namun, garis besar rencana Trump saat ini hampir tidak mendapat dukungan di Israel.
Baca Juga:
Situasi Perang di Timteng Kian Memanas: IRGC Iran Janji Bunuh Netanyahu
"Untuk menghormati Trump, harus dikatakan bahwa setidaknya dia mencoba," tulis Ariel Kahana di harian berbahasa Ibrani Israel Hayom.
"Keberaniannya melepaskan kekuatan tembak luar biasa Amerika Serikat terhadap Iran jauh lebih baik dibanding ketidakberdayaan historis yang ditunjukkan semua pendahulunya."
Namun ia mengakui Iran kini berhasil membangun citra kemenangan karena rezimnya tetap bertahan meski digempur perang besar.