Kini sejumlah analis Israel justru menilai kesepakatan baru Trump lebih buruk dibanding JCPOA.
"Kesepakatan yang sedang muncul jauh lebih buruk dibanding yang sebelumnya," tulis Ben Caspit di surat kabar Ma'ariv.
Baca Juga:
Ancaman Mengerikan Iran untuk Netanyahu di Tengah Kecamuk Perang
Ia memperingatkan bahwa dampak perang dan kesepakatan gencatan senjata justru bisa mempercepat program nuklir Iran, bukan menghancurkannya seperti yang dijanjikan Netanyahu.
"Jika mereka (Iran) akhirnya memiliki bom nuklir, maka itu akan menjadi bom milik Bibi," tulis Caspit, menggunakan nama panggilan Netanyahu.
Caspit juga menyoroti pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Menurutnya, kematian Khamenei memang menghilangkan sosok yang membangun program nuklir Iran, tetapi juga menghilangkan figur yang selama ini menahan tahap akhir pengembangan senjata nuklir.
Baca Juga:
Situasi Perang di Timteng Kian Memanas: IRGC Iran Janji Bunuh Netanyahu
Sementara itu, ancaman lain yang sejak awal dijadikan alasan perang oleh Israel, seperti jaringan proxy Iran di kawasan dan arsenal rudal balistik Teheran yang telah menimbulkan korban jiwa serta kerusakan di Israel, bahkan tidak masuk dalam agenda negosiasi saat ini.
Situasi itu membuat kelompok sayap kanan ekstrem di koalisi Netanyahu mulai mendesak pemerintah menentang tekanan Trump, terutama terkait gencatan senjata parsial dengan Hizbullah di Lebanon yang diterapkan atas dorongan Washington.
"Sudah waktunya perdana menteri memukul meja Trump dan memberitahunya bahwa kita kembali berperang di Lebanon," tulis Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir di media sosial pada Senin.