Ia menyebutkan, padatnya kerumunan membuat banyak orang tak sempat menyelamatkan diri saat tembakan mulai dilepaskan.
Laporan Al Jazeera menggambarkan bahwa serangan terhadap antrean bantuan kini sudah menjadi “rutinitas harian”.
Baca Juga:
Hamas Minta Iran Tidak Menyerang Negara Tetangga
“Lebih dari tiga bulan blokade total di perbatasan telah menjadikan Gaza sebagai pusat kelaparan,” ungkap jurnalis Tareq Abu Azzoum dari Deir el-Balah, Gaza Tengah.
Ia menambahkan, warga terpaksa berebut kantong tepung dan air minum, walau gizinya nyaris tak mencukupi.
“Serangan ini terus berlanjut dan telah mengubah koridor kemanusiaan menjadi lokasi pembantaian,” katanya tegas.
Baca Juga:
Indonesia Siap Kirim 20.000 Prajurit ke Gaza, Tapi Akhirnya Hanya 8.000! Ini Alasannya
Militer Israel mengklaim bahwa pasukannya hanya melepaskan tembakan peringatan setelah ada "tersangka" yang mendekati mereka di Koridor Netzarim.
Namun klaim tersebut tidak disertai bukti konkret.
Di lokasi lain, serangan drone Israel di Kamp Pengungsi Al Shati menewaskan 13 orang yang sedang mengisi daya perangkat elektronik di tenda darurat.